Pages

Monday, December 30, 2013

Finding 3 Kittens

Sore itu sepulang dari kampus, aku melangkahkan kaki menuju rumah. Melewati sebuah lorong hingga bertemu dengan sebuah bangunan di komplek yang telah dirubuhkan sehingga terciptalah sebuah tanah lapang lengkap dengan puing-puing bangunannya. Hari itu jalanan begitu sepi dan cuaca terlihat mendung. Mungkin langit akan menangis, gumamku. Benar saja. Air dari langit mulai berjatuhan, rintik perlahan. Tiba-tiba terdengar suara tangisan kucing. Aku mundur perlahan mencari tahu dari mana sumber suara itu berasal. Kuhampiri sebuah kardus yang berada di antara puing-puing bangunan tersebut. Sebuah kardus yang sedikit tertutup dan tidak terlalu bersih. Rupanya sumber suara itu berasal dari dalam kardus ini, pikirku. Di tengah rintikan hujan itu, lewatlah seorang paman yang tidak kukenal dan beliau mengatakan bahwa ada seseorang yang telah membuang 3 ekor anak kucing tersebut. Kuperhatikan fisik para anak kucing tersebut. Tubuhnya sedikit kotor. Matanya masih tertutup, mereka masih bayi. Mungkin umurnya belum mencapai 2 minggu. Mereka terlihat rapuh, lemah tidak berdaya dan hanya bisa menangis di tengah rintikan hujan. Mereka terlihat kelaparan sekali. 


Penampakan Bayi Kucing


Aku pun bertanya-tanya. Siapakah orang yang tega membuang mereka ke tempat ini dan memisahkan mereka dari induknya? Saat itu aku merasa iba dan ingin membawa mereka pulang. Dihantui oleh  perasaan ragu, karena tidak mungkin untuk membawa ketiga ekor kucing tersebut ke rumah. Sejak dulu mama tidak pernah mengizinkan diriku memungut kucing liar. Aku tahu resikonya jika aku melakukan hal itu. Jadi kupikir aku tidak berkewajiban untuk memungut ketiga anak kucing tersebut. Dengan berat hati aku mulai melangkahkan kaki meninggalkan ketiga anak kucing tersebut. Masih memikirkan tiga ekor anak kucing tersebut, tiba-tiba rintikan hujan turun semakin deras. Akhirnya tanpa penuh perhitungan aku berbalik menuju ke tempat di mana ketiga anak kucing itu berada. Kuraih kardus yang berisi ketiga anak kucing tersebut. Aku melepaskan jaketku untuk menutupi kardus itu agar tidak terkena hujan dan kemudian aku berlari menuju rumah di tengah derasnya hujan. Dalam benakku mengatakan mungkin mama akan memarahiku jika mengetahui bahwa aku memungut mereka. Tapi entah kenapa aku merasa tidak bisa membiarkan mereka bertiga menangis, basah kedinginan dan mati perlahan di tengah derasnya hujan.

Setibanya di rumah, aku memasuki teras dan mama menyambutku yang basah karena kehujanan. Sesuai dengan dugaanku. Mama menegurku ketika mengetahui bahwa yang kubawa adalah kittens liar. Aku hanya terdiam saat itu. Mama memintaku untuk mengembalikan ketiga kittens tersebut ke tempat asalnya setelah hujan reda atau memberikan ketiga kittens tersebut kepada siapapun yang menginginkannya. Tanteku yang sedang berkunjung ke rumah terheran-heran, siapa yang tega membuang anak kucing tersebut. Menurutnya, jika ketiga anak kucing tersebut ingin dibuang, sebaiknya ketika mereka sudah berusia di atas 2 bulan ketika mereka mulai bisa berjalan dan mulai mandiri,sedangkan di usia yang seperti itu (sekitar 1 minggu) mereka belum mampu berjalan dengan baik, belum bisa makan makanan khusus kucing dan sangat membutuhkan ASI (Air Susu Induk) yang berasal dari induk mereka. 

Aku memasukkan ketiga anak kucing itu ke dalam kamarku. Kuperhatikan alas kardus yang terlihat tidak bersih dengan koran bekas yang sedikit lembab. Nampak beberapa ekor semut kecil berada di dalam kardus itu. Kemudian kuganti alas mereka di dalam kardus tersebut dan kuletakkan kardus tersebut di tempat yang kurasa hangat. Tapi mereka tidak juga berhenti menangis. Bahkan aku baru menyadari bahwa kitten yang berwarna abu-abu menghisap telinga dari kedua saudaranya, miris. Sepertinya itu bukan yang pertama kalinya dia menghisap telinga saudaranya. Kulepaskan hisapannya. Mereka terus mengeong karena kelaparan. Aku pun kebingungan. Kebodohanku yang pertama.. ahaha. Aku memeriksa isi kulkas dan mencari susu yang sekiranya dapat kuberikan kepada ketiga kittens tersebut. Namun, semua susu yang berada di dalam kulkas mengandung laktosa. Karena mereka masih berusia sekitar 1 minggu, aku harus memberikan mereka susu yang tidak mengandung laktosa setiap 2 jam sekali. Sepengetahuanku begitu. Tentu saja tidak diperkenankan memberikan susu secara sembarangan kepada bayi kucing seperti itu karena hal tersebut dapat merusak pencernaan milik mereka dan menyebabkan diare.

Oh! Justru susu yang tidak mengandung laktosa adalah alternatif kedua.  ASI (Air Susu Induk) adalah yang pertama. Apabila ingin merawat bayi kucing seperti ini sepengetahuanku alternatif pertama adalah dengan mencarikan induk kucing atau kucing yang memiki ASI untuk menyusui bayi kucing tersebut. Kebetulan saat itu di rumah ada Milky, kucing persia medium berwarna putih dengan mata flip-flop milik tanteku yang masih menyusui anak-anaknya. Milky dibiarkan bebas keluar rumah dan dia berpetualangan entah kemana *seperti kupu-kupu malam (eh?)*. Walaupun dia dibebaskan namun dia selalu pulang dalam keadaan baik. Rumahku dan rumah tanteku merupakan rumah bagi Milky. Sebelumnya Milky adalah milik keluarga kami. Namun sepupuku menginginkan Milky dan sekarang Milky dirawat oleh mereka.

Kemudian aku membawa ketiga anak kucing tersebut ke hadapan Milky. Awalnya Milky masih merespon dengan mendekati kardus berisi ketiga kittens yang belum juga berhenti mengeong sedari tadi. Mungkin dia sempat berpikir bahwa ketiga kittens tersebut adalah anaknya. Namun betapa terkejutnya dia begitu melihat isinya dan taraaaaaa.. "They r NOT my babies!" Apakah dia berpikir seperti itu? Entahlah, yang pasti pada akhirnya Milky mundur perlahan menjauhi kardus berisi tiga ekor anak kucing tersebut. Aku berusaha menahan Milky dan mendekatkannya ke arah kardus sekali lagi, tapi dia tetap berusaha untuk mundur dan menghindar.
Akhirnya kugendong Milky dan aku mencoba berbicara dengannya. Aku memohon kepada dia untuk menjadi CPR bagi ketiga anak kucing tersebut. Kucoba untuk meletakkan Milky sekali lagi didekat anak-anak kucing tersebut namun Milky melompat. Kutahan Milky dan memohon kepadanya, tapi Milky justru menggeram ke arah tiga anak kucing tersebut. Oke, aku mengerti. Aku tidak bisa memaksamu. Aku pun melepaskannya dan dia berlari menuju ke anak-anaknya yang sesungguhnya.

Aku terdiam. Kukatakan pada ketiga anak kucing tersebut untuk lebih bersabar malam itu karena aku baru dapat membelikan susu untuk mereka besok pagi.
Aku terdiam lagi diiringi oleh tangisan mereka. Tiba-tiba salah satu kakakku datang menghampiri ketiga kucing tersebut dan mengangkat mereka. Apa yang akan dilakukannya? Aku mengikutinya. Ternyata kakakku memasukkan ketiga anak kucing tersebut ke dalam kandang Menor salah satu kucing di rumahku yang sedang menyusui keempat anaknya yang belum berusia 1 bulan. Aku menjelaskan kepada kakakku bahwa Milky tidak mau menyusui mereka bertiga. Apakah Menor mau menyusui mereka? Ini adalah pertolongan pertama bagi ketiga anak kucing tersebut dan hanya hari ini saja, ujar kakakku. Kami berdua memperhatikan Menor dan ketiga anak kucing tersebut. Mereka bertiga masih menangis. Menor yang melihat hal itu bermaksud untuk menenangkan mereka dan menjilati tubuh ketiga anak kucing tersebut hingga bersih dari kotoran. Namun Menor terdiam sejenak dan memperhatikan ketiga anak kucing tersebut. Ekspresi wajahnya terlihat bingung. Mungkin dia heran mengapa anaknya bertambah tiga ekor haha. Tapi pada akhirnya Menor pun menyelonjorkan tubuhnya hingga terlihat lebih memanjang untuk mempermudah ketiga anak kucing tersebut mendapatkan susu darinya. Jadi ada 7 ekor anak kucing yang malam itu disusui oleh Menor. Ketiga anak kucing itu pun mulai berhenti menangis setelah mendapatkan ASI. Ya, syukurlah Alhamdulillah masih ada Menor.

Keesokan paginya aku mengganti kardus mereka dengan kotak yang lebih kecil dan dilapisi dengan bungkus kado disekelilingnya. Tentu saja itu adalah kotak bekas. Bagian dalam kotak kulapisi dengan koran dan kain. Kemudian ketiga anak kucing itu kumasukkan ke dalam kotak tersebut. Aku bersiap untuk berangkat ke kampus untuk menyerahkan ketiga anak kucing tersebut kepada temanku yang menginginkannya. Di tengah perjalanan, aku mampir ke sebuah pet shop dan membeli sekotak susu khusus untuk anak kucing yang sudah pasti tidak mengandung laktosa. Selama perjalanan menuju ke kampus, aku memperhatikan mereka bertiga beberapa kali. Kitten yang memiliki 3 warna terlihat begitu lemah dan fisiknya begitu mungil dibandingkan dengan kedua saudaranya. Begitu tiba di kampus, salah seorang temanku mengatakan bahwa dia hanya dapat mengadopsi kucing jantan. Ternyata dari 3 ekor anak kucing tersebut diketahui bahwa kitten yang memiliki 3 warna adalah betina dan 2 ekornya lagi, si belang dan abu-abu adalah jantan. Jadi saat itu aku pikir kenapa si betina ini tidak kuserahkan saja ke himpunan penyayang binatang? Tiba-tiba temanku mengatakan bahwa dia melihat belatung yang keluar dari telinga si betina. Aku sedikit terkejut dalam diam ketika mendengar hal itu. Saat itu aku baru menyadari bahwa terdapat darah di alas tempat mereka berada di dalam kardus. Kuangkat si betina yang memiliki 3 warna itu dengan tanganku dan kuperhatikan telinganya. Berdarah. Sepertinya penyebab luka tersebut muncul pada telinganya karena si jantan yang memiliki warna abu-abu sering menggigit dan mengulum telinganya dikarenakan si abu-abu merasa kelaparan saat itu sehingga hal tersebut mengakibatkan infeksi pada telinga si betina. Aku yang masih sedikit tersentak merespon pernyataan temanku dengan bertanya apakah dia yakin telah melihat belatung pada telinganya? Karena aku sama sekali tidak melihat makhluk yang menjijikkan itu. Namun temanku mengatakan mungkin dia telah salah melihat makhluk tersebut.

Tapi karena aku dan temanku sama-sama masih merasakan keraguan, akhirnya kami sepakat untuk mengunjungi sebuah lembaga penyayang binatang dan sekaligus klinik khusus untuk hewan dan rumah sakit hewan yang berada di daerah ragunan. Kami pikir mungkin mereka bisa melakukan sesuatu. Misalnya menolong dan merawat si betina. Saat itu aku benar-benar berharap bahwa si betina dapat terus bertahan hidup. Aku sungguh-sungguh sangat mengharapkan hal itu terjadi. Saat tiba di lokasi, temanku menunggu di tempat parkiran dan aku berupaya melewati para tuan guguk besar yang berkeliaran di sana untuk menuju ke dalam. Jujur saja aku tidak berani namun tidak juga takut terhadap hewan yang disebut sebagai anjing tersebut. Seekor guguk besar berupaya mendekati ku. Mungkin lebih tepatnya guguk tersebut menginginkan apa yang berada di atas kedua tanganku, kardus berisi tiga ekor anak kucing. Sehingga aku harus mengangkat kardusnya tinggi-tinggi agar tidak terjangkau sang guguk yang besar itu. Aku menemui petugas dan menanyakan apakah lembaga itu bisa mengadopsi si betina. Namun ternyata saat itu lembaga tersebut sudah ditutup karena waktu sudah menunjukkan kurang lebih jam 3 lewat. Selain itu petugas mengatakan bahwa mereka tidak dapat mengadopsi hewan yang masih terhitung sebagai bayi atau kitten. Aku sempat merasa kebingungan. Kemudian aku menjelaskan bahwa salah satu dari ketiga anak kucing tersebut terluka dibagian telinganya dan aku ingin memeriksakannya ke dokter yang berada di sono.. Jadi  intinya adalah WHAT SHOULD I DOOOOHHH?? DDD"""::: duh :<

Ternyata klinik hewan masih dibuka dan dokternya pun masih berada di tempat (yaiyalah wong masih dibuka). Akhirnya aku membawa si betina ke dalam klinik. Aku bertemu Bu Dokter yang belum pernah kutemui sebelumnya selama aku membawa para kucingku ke sini. Kemudian Bu Dokter tersebut mulai memeriksa si betina sambil berbicara dengan si betina. Si betina terlihat lemas sekali. Bahkan dia kesulitan mengangkat kepalanya sendiri. Bu Dokter mengatakan bahwa telinganya terluka karena digigiti dan dikulum oleh saudaranya sehingga menyebabkan infeksi. Sesuai dengan dugaanku. Telinga kucing memang rentan. Dokter mengatakan bahwa luka tersebut dapat disembuhkan. Aku terus berdoa. Bu Dokter pun mulai mengoleskan obat ke telinga si betina. Si betina meraung kesakitan. Mendengar raungannya dan melihatnya tersiksa seperti itu rasanya ada sesuatu yang menusuk ke dalam diriku. Sangat tajam. Sakit...
Bu Dokter mencoba mengajaknya berbicara dan meminta si betina untuk menahan rasa sakit itu dan menyemangati si betina bahwa dia harus kuat. Setelah itu aku mencoba bertanya kepada dokter mengenai lukanya karena aku khawatir apa bila terdapat belatung di dalam telinganya seperti apa yang dilihat oleh temanku. Bu Dokter mengatakan tidak terdapat makhluk itu di dalam telinganya. Aku merasa sedikit lega saat itu. Bu Dokter memberikan obat untuk dioleskan ke telinganya di rumah. Kata-kata terakhir Bu Dokter kepada si betina adalah "Berjuanglah untuk hidup bersama dengan saudara-saudaramu". Aku pun mulai mencoba mencari lagi apakah masih ada yang ingin mengadopsi si betina. Ternyata masih ada yang menginginkan si betina. Aku berencana memberikan si betina 2 hari lagi jika keadaannya mulai membaik. Tapi hari itu aku membawa ketiganya ke rumah temanku di daerah TMII untuk sementara waktu. 

Di tengah perjalanan aku masih kepikiran mengenai makhluk yang bernama belatung itu. Apakah Bu Dokter sungguh-sungguh yakin bahwa makhluk itu tidak ada di dalam telinga si betina. Karena bagaimanapun juga tidak ada yang mengetahui sejak kapan si abu-abu suka menggigit dan mengulum telinga saudaranya sendiri ketika merasa lapar. Aku pun mencoba berbicara dengan temanku di tengah perjalanan itu. Aku mengatakan padanya bahwa dokter menyatakan there's no belatung in her ears. Meskipun aku tidak dapat melihat wajah temanku karena dia yang mengendarai motornya, tapi aku tahu bahwa dia merasa ragu walaupun dia sendiri sempat mengatakan telah salah melihat makhluk tersebut. 

Finally ketika tiba di rumah temanku, aku dan temanku mencoba memberikan susu kepada ketiga ekor anak kucing tersebut namun si betina sama sekali tidak mampu menenggak air susu yang kami berikan. Kuperhatikan dia semakin lemas dan semakin tidak mampu untuk menggerakkan kepalanya. Kubiarkan dia berbaring di karpet dan betapa terkejutnya aku ketika kuperhatikan telinga. Darah memenuhi telinganya dengan penuh, seperti air sup yang berada di dalam mangkuk dan tiba-tiba muncul makhluk yang menggeliat-geliat bernama belatung itu dari dalamnya. Saat itu aku merasa mati sedetik. Si betina meraung mengeong karena merasa kesakitan. Aku yang melihat hal itu tidak tega. Temanku mengatakan bahwa hal tersebut sudah seperti hukum alam bahwa yang kuat akan memakan yang lemah. Seperti halnya ketika seekor kucing merasa kelaparan, dia mampu menggigit saudaranya bahkan memakannya. Ibu dari temanku mengatakan bahwa si betina tidak akan mampu bertahan hidup. Miris. Aku merasa lemas. Aku merasa bodoh karena tidak mampu menolongnya. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan... Aku yang merasa kesal pun berusaha mengeluarkan makhluk menjijikkan yang berupaya menggerogoti telinga si betina itu dengan menggunakan pengorek telinga. Sebagian besar tentunya tidak berhasil aku keluarkan. Tapi setiap kali aku berhasil mengeluarkan beberapa makhluk-makhluk yang menjijikkan itu, aku langsung membunuhnya dalam sekejap (jangan tanya apa yang kulakukan terhadap makhluk itu). Begitu emosi, aku menangis. Dalam hati aku meminta maaf kepada si betina, aku merasa sangat menyesal. Berlebihankah? Tapi itulah yang kurasakan. Sesak.. Aku berdoa, memohon.. Jika memang apa yang dirasakannya begitu sakit, aku berharap si betina tidak mati perlahan seperti ini. Karena walaupun aku tidak secara langsung merasakannya (amit-amit dah) namun aku tahu pasti bahwa betapa menyakitkannya ketika makhluk yang menjijikkan itu menggerogoti si betina dari dalam. Aku ingin si betina pergi dengan damai. Aku menunggu hingga si betina benar-benar terlelap ke dunia sana. 

Betina akhirnya benar-benar meninggalkan dunia. Aku yang masih diselimuti perasaan bersalah yang begitu besar pun membawa si betina pulang ke rumah untuk menguburkan si betina di kebun samping rumah. Sepanjang perjalanan aku merasa seperti orang bodoh. Tatapanku begitu kosong, tapi pikiranku begitu ramai. Sepertinya aku telah melakukan kesalahan yang begitu besar. Aku berpikir seandainya mereka bertiga tidak kupungut saat hari dimana aku menemukan mereka... bagaimana nasib mereka? Apakah mereka masih akan tetap bertahan hidup? Tapi ketika kupungut pun aku tidak berhasil menyelamatkan keseluruhannya. Lalu bagaimana pula nasib para kucing peliharaanku di rumah seperti menor yang telah menyusui mereka bertiga? Bagaimana dengan nasib anak-anak menor? Apakah mereka akan terkena bakteri dan harus mengalami hal yang sama seperti si betina? Begitu khawatir.. Begitu cemas.. Bahkan aku bertanya-tanya kepada yang Maha Kuasa, apakah tindakanku benar? Karena aku merasa telah melakukan kesalahan besar. Apakah seharusnya saat itu mereka bertiga sudah mendekati ajal ketika hari dimana aku menemukan mereka? Apakah dengan tindakanku memungut mereka berarti telah menghalangi yang Maha Kuasa untuk mencabut nyawa mereka? Tapi aku tidak bisa membiarkan mereka kehujanan saat itu.. Aku tidak bisa membayangkan mereka memakan saudaranya satu sama lain, atau apabila ada guguk yang berkeliaran dan bisa saja menjadikan mereka sebagai santapannya.. Pikiranku mulai negatif. Aku mulai merasa pusing. Beberapa kali air mataku keluar dan beberapa kali aku menghapusnya. Walau terdengar sangat berlebihan, jujur aku merasa sesak, tertekan, sakit.. Bahkan ketika harus membayangkan nasib si betina dari awal hingga akhir, aku merasa ingin berteriak karena merasa bodoh, aku tidak berhasil menolongnya. Aku mencoba menenangkan diri dan mempersiapkan diri begitu tiba di rumah. Karena aku tahu mama akan marah padaku jika aku mengatakan keseluruhan cerita. 

Benar saja. Begitu tiba di rumah, aku langsung menjelaskan keseluruhan kejadian seperti yang aku ketik saat ini. Mama sedikit memarahiku dan memintaku untuk tidak melakukan hal seperti ini tanpa perhitungan terlebih dahulu. Aku tahu, aku sangat tahu bahwa aku bersalah. Aku hanya terdiam. Kemudian aku mengatakan bahwa aku ingin mengubur si betina di kebun. Mama memberikanku sekop. Aku pergi ke kebun menjelang magrib, mencoba menggali lubang yang dalam sebagai tempat peristirahan si betina. Tanahnya begitu subur sehingga aku dapat menemukan banyak cacing dan di sekitar tanah ada beberapa lintah serta siput-siput kecil. Aku membayangkan si betina yang nantinya akan dimasukkan ke dalam lubang itu. Harus bertemu belatung lagi? 
Sambil menggali tanah, aku mulai menyalahkan diriku lagi, "laga mu nak, sok jagoan, sok-sokan nolongin anak kucing liar, melindungi diri sendiri saja belum becus, ngerepotin orang iya." Aku berbicara kepada diriku sendiri. Air mataku menetes lagi.
Setelah itu aku berbicara dengan si betina dan tidak lupa juga aku berbicara kepada yang Maha Kuasa. Pada akhirnya di dalam hati aku meminta maaf kepada diriku sendiri, kepada si betina, kepada orang-orang yang telah kurepotkan dalam hal ini dan tentunya kepada yang Maha Kuasa. Aku memang bodoh. Maafkan aku...
Hari mulai gelap, mama dan adikku pun menghampiriku dan membantuku membuat lubang yang lebih dalam lagi. Kemudian si betina dikuburkan di dalamnya. Setelah berdoa, aku, mama dan adikku masuk ke dalam rumah. 

Aku juga mengatakan kejadian tersebut kepada kakakku. Setelah kejadian ini, aku sangat khawatir dengan keadaan Menor dan anak-anaknya sehingga aku sangat berharap semoga menor beserta anak-anaknya baik-baik saja. 


Anaknya Menor


Setelah membersihkan diri, aku masuk ke dalam kamar, berbaring dan menutup kedua mataku dengan lengan kananku. Aku berpikir, 


ah.... apa yang sudah aku lakukan....?








  





No comments:

Post a Comment